Langkah Kaki Santri 7.0: Merajut Jihad Masa Lalu, Menempa Karakter di Puncak Taruwongso

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika riuh rendah langkah kaki memecah kesunyian Pesantren 7.0 Insan Mulia. Hari itu bukan hari biasa. Dalam rangka memperingati Hari Santri, para santri bersiap melakukan perjalanan fisik dan spiritual menuju Gunung Taruwongso. Perjalanan ini bukan sekadar tadabur alam, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjiwai kembali api Resolusi Jihad Surabaya yang pernah dikobarkan oleh para ulama pada masa perjuangan kemerdekaan.

Menapaki Jejak Perjuangan dengan Perbekalan Seadanya

Jika dahulu pada Oktober 1945 para santri dan ulama bergerak serentak mempertahankan tanah air dengan segala keterbatasan, hari ini Santri Pesantren 7.0 Insan Mulia menyusuri rute dengan semangat samudra yang sama. Mereka berangkat hanya dengan membawa perbekalan uang seadanya. Namun, keterbatasan kantong tidak mengecilkan nyali mereka. Semangat ini justru menjadi simulasi nyata bagaimana para pejuang dahulu berjuang tanpa memikirkan kemewahan fasilitas, melainkan murni bersandar pada rida Allah SWT.

Sebelum berangkat, salah satu asatidz (ustadz) memberikan hadiah bekal istimewa berupa buah melon, anggur, dan apel. Bekal ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol doa dan perhatian dari guru kepada murid-muridnya yang sedang melakukan perjalanan jihad fi sabilillah—jihad melawan rasa malas dan ego pribadi.

Safar sebagai Madrasah Penempa Sifat Hakiki

Sesuai dengan esensi safar dalam Islam, perjalanan jauh ini menjadi ruang ujian terbuka untuk menyingkap dan melatih karakter asli para santri di sepanjang rute yang melelahkan:

• Berbagi di Tempat Peristirahatan Tengah Jalan: Memasuki setengah perjalanan menuju kaki gunung, rasa lelah mulai menyergap. Rombongan pun berhenti di tempat peristirahatan untuk memulihkan tenaga. Di sinilah mereka mulai memotong sebagian bekal buah pemberian ustaz. Sifat asli pun terlihat; di tengah rasa haus, santri dilatih mempraktikkan sifat itsar (mendahulukan orang lain) dengan saling berbagi potongan melon, butiran anggur, dan apel secara adil tanpa ada yang serakah.

• Melatih Kesabaran (As-Sabr) Menuju Puncak: Sisa buah sengaja disimpan untuk puncak. Medan yang menanjak menuju Taruwongso mengikis kepura-puraan. Santri dilatih untuk tidak mengeluh saat jalur semakin terjal dan sisa air minum menipis, melainkan terus berzikir menata hati.

• Menumbuhkan Solidaritas (Al-I'anah): Santri yang kuat tidak egois berlari sendirian ke atas. Mereka melambatkan langkah untuk memapah temannya yang kelelahan atau saling bergantian membawakan tas punggung rekannya.


Puncak Taruwongso: Tempat Menatap Masa Depan

Begitu kaki menapak di puncak Gunung Taruwongso, sejauh mata memandang terhampar keindahan alam yang luar biasa. Di tempat ketinggian ini, rasa syukur membuncah. Sisa perbekalan buah anggur dan apel yang dibawa dengan penuh perjuangan akhirnya dikeluarkan dan dinikmati bersama.

Di sinilah para santri merenungi bahwa puncak keberhasilan hanya bisa dicapai melalui pengorbanan, kerja sama, dan keteguhan iman—persis seperti kemenangan yang diraih lewat Resolusi Jihad. Mereka turun kembali tidak hanya dengan tubuh yang lelah, tetapi dengan jiwa yang telah ditempa menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Berkah Mangga di Jalan Pulang dan Ujian Akhir di Masjid Persinggahan

Langkah kaki para santri saat turun dari Gunung Taruwongso tentu terasa lebih berat karena sisa-sisa kelelahan, ditambah uang saku yang memang seadanya. Namun, di tengah keterbatasan itu, Allah menunjukkan kuasanya. Ketulusan penduduk lokal mendadak menghapus keletihan mereka. Di tengah rute kepulangan, beberapa warga sekitar dengan senyum hangat mencegat rombongan dan menghadiahi mereka dua ember penuh buah mangga segar hasil bumi Taruwongso. "Alhamdulillah, rezeki santri!" seru mereka penuh syukur.

Dengan penuh kehati-hatian, para santri bergantian menjinjing dua ember amanah tersebut hingga tiba di sebuah masjid persinggahan untuk beristirahat. Di teras masjid yang teduh inilah, buah mangga dari warga tersebut dipotong dan dinikmati bersama. Momen sederhana ini menjelma menjadi penutup ujian akhlak yang manis:

• Melatih Rasa Syukur yang Mendalam: Santri diajarkan melihat bahwa ketika mereka berniat baik, rezeki sering kali datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Duduk di rumah Allah sembari menikmati manisnya buah mangga setelah lelah mendaki memunculkan getaran syukur yang mendalam di hati mereka.

• Menjaga Adab dan Kebersihan Lingkungan: Menikmati mangga di area masjid melatih kedisiplinan mereka. Santri secara sadar berbagi tugas mengumpulkan kulit dan biji mangga agar tidak mengotori kesucian halaman masjid, mencerminkan salah satu pilar iman: kebersihan.

Safar hari itu ditutup dengan penuh kedamaian. Setiap suapan buah di sepanjang perjalanan—mulai dari melon di rest area, apel dan anggur di puncak, hingga mangga di pelataran masjid persinggahan—menjadi pengingat abadi bagi para santri Pesantren 7.0 Insan Mulia: bahwa jihad tidak selalu berarti angkat senjata, melainkan tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan masyarakat (hablum minannas), menjaga adab, dan memastikan hati tetap bersih di segala kondisi.